Tas
itu tak pernah benar-benar ringan.
Ia menggantung di bahu
seperti langit kecil
yang memuat cuaca seluruh rumah.
Di dalamnya ada dompet tipis
yang lebih sering memberi daripada menyimpan,
ada tisu untuk air mata
yang belum tentu miliknya,
ada obat, permen, jarum, doa
yang dilipat tanpa suara.
Resletingnya seperti bibir
yang selalu tertutup rapat—
menyimpan lelah
agar tak tumpah di depan anak-anaknya.
Kadang tas itu tampak usang,
kulitnya retak oleh waktu,
namun talinya tetap kuat
menahan beban yang tak pernah dihitung.
Ia tak pernah memilih isi,
apa pun dimasukkan:
harapan yang belum lunas,
cemas yang tak sempat diucap,
dan mimpi-mimpi kecil
yang dititipkan diam-diam.
Jika
kau mengintip ke dalamnya,
kau tak hanya menemukan barang—
kau menemukan peta
tentang bagaimana cinta bekerja:
diam, penuh,
dan selalu siap dibuka
kapan pun dunia terasa kurang
“Sayangilah dan jagalah sebaik mungkin
Jika kau meninggalkan tas usangmu
maka kau takkan pernah merasakan
kasih yang dalam!”
Sidoarjo/02/03/2026

Josjhis
BalasHapus