Di balik meja berkilap dan kursi empuk, sang penjabat tersenyum pada kamera, menandatangani janji yang tak pernah ia baca.
Kata-kata indah keluar dari
mulutnya, tapi di balik layar hanyalah bunyi kosong—simbol janji yang hilang
sebelum sempat ditepati.
Rakyat diukur sebagai angka dalam
laporan, amanah menjadi pertunjukan, dan setiap senyum adalah strategi, bukan
empati.
Ia mengatur rapat dengan serius,
membicarakan visi dan misi, tapi pikirannya sering melayang ke keuntungan
pribadi, ke pencitraan yang lebih aman di mata publik.
Di
ruang rapat, ia bicara tentang tanggung jawab, tentang pelayanan, tapi hatinya
sering tertawa dalam diam, menyadari bahwa kekuasaan hanyalah permainan: siapa
berani, dia menang; siapa diam, tetap menunggu giliran.
Ia menimbang kebijakan seperti
memilih baju, mana yang cocok untuk tampilan depan, mana yang bisa
disembunyikan.
Malam tiba, ia pulang dengan
nyaman, meninggalkan kota yang berdebu dan janji yang menguap, sementara dunia
melihatnya sebagai penjaga—padahal ia hanyalah aktor dalam sandiwara besar
bernama kekuasaan, di panggung yang gemerlap tapi hampa.
Sidoarjo/02/03/26
.jpg)
Komentar
Posting Komentar